arlina nurul ikhsani

Rey is in relationship now

Batu beton seberat 10 kg seperti menghantam dadaku. Aku tak percaya melihat tulisan yang tertera di profil facebook Rey. Ini semua seperti mimpi. Mimpi yang datang di siang bolong. Padahal jam di dinding sudah menunjukkan tepat jam 9 malam. Hatiku terasa sangat sakit. Sakit sekali. Sampai aku tak menyadari setitik air mataku jatuh ke pipi. Aku sendiri tak menyadari apa yang ku rasakan sekarang ini. Yang ku rasakan hanya sakit hati mengingat semua yang sudah ku lalui bersama Rey.

Sembilan tahun yang lalu, sewaktu kami duduk di kelas 1 sd, aku dan Rey sangat dekat. Begitu juga dengan orangtua kami. Kedekatan kami seperti kakak dan adik, mungkin Rey menganggapnya seperti itu. Kami sering mengerjakan tugas bersama, aku sering datang ke rumah Rey bersama mamaku, makan kue buatan Tante Sofi mamanya Rey, main playstation berdua, apalagi belanja bareng ke mall favorit kami.

Hari-hari yang ku lalui bersama Rey terasa begitu cepat. Aku dan Rey lulus SD dan akan meneruskan ke SMP. Aku dan Rey daftar di SMP yang sama. SMPN 139 Jakarta. Tapi keberuntungan hanya berpihak kepadaku, Rey tidak diterima di sekolah yang kami inginkan. Hari berikutnya Rey daftar di SMP Altavia. Dan diterima.

“Lunaaa!” Langkah kaki mama menuju kamarku membuyarkan semua lamunanku.

“Iya ma,” jawabku singkat. Terdengar agak serak suara yang keluar dari mulutku.

“Kamu udah tidur sayang?” kali ini mama sudah di sampingku sambil membelai rambut lurusku.

“Iya ma, sebentar lagi” jawabku sambil berusaha tersenyum.

“Yaudah, jangan malem-malem ya tidurnya. Mama ngga mau kalau kamu telat ke sekolah cuma gara-gara kesiangan.” suara mama yang begitu lembut menasihatiku. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman yang agak dibuat-buat.

Terdengar suara pintu tertutup. Dan itu berarti mama sudah keluar dari kamar setelah mencium dahiku. Beruntung mama tak menegur aku karena mataku yang sembab setelah menangis selama 2 jam, walaupun aku yakin mama mengetahuinya.

*****

Aku berjalan perlahan ke bangku kosong yang berada sedikit di pojokan kelas. Kelas IX.1 belum begitu ramai. Padahal sudah jam 06.45. Dan seperti biasa Ana teman sebangku ku belum datang. Mungkin dia kesiangan lagi, pikirku.

Pelajaran demi pelajaran berlalu begitu saja tanpa ada ada yang ku perhatikan satu pun. Saat ini otakku tidak bisa bekerja seperti biasanya. Terlalu banyak yang ku pikirkan. Ana yang ada di sebelahku hanya bisa menatapku dengan pandangan menyelidik saat jam pelajaran berakhir.

“Kalo gue perhatiin dari gue masuk kelas sampe sekarang mau pulang, lo diem aja Lun kaya orang sariawan stadium akhir!” celetuk Ana.

Aku hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Ana.

“Masih gak mau ngomong? Lo kenapa sih saaaaaay?” lanjut Ana sok lembut.

Menggeleng, lagi! Hanya itu yang bisa ku lakukan. Dan air mataku mulai jatuh lagi.

“Eh…eh… kok lo nangis sih….? Aduh jangan nagis di sini dong Lun, ntar orang ngira gue abis ngapa-ngapain lo.” Ana kebingungan melihat aku menangis. “Sekarang mendingan lo cerita deeh sama gue, siapa tau gue bisa bantu. Tapi jangan pake nangis yaaa…!” lanjut Ana dengan penuh perhatian.

*****

“Oooh jadi itu penyebabnya mata lo bengkak gitu!!” ujar Ana di sela-sela tangisku. Aku sudah menceritakan semuanya pada Ana. “Ya..ampuun Luuun… Itu tandanya lo cinta sama Rey. Kanapa lo gak pernah cerita sama gue? Kalo udah kaya gini kan jadi terlambat. Terus kenapa lo gak pernah jujur sama Rey? Harusnya kan dia tau, biar elo gak sakit hati begini. Elo juga sih nyimpen rahasia sendirian kayak gak punya temen curhat aja!! Gue kan sel…” celoteh Ana seperti kereta api Argo Bromo yang lagi nge-track.

“Udaaah dong Na ngomelnya, sekarang gimana inii?? Air matanya gak mau berhenti niih, sedangkan gue harus buru-buru ke parkiran nyamperin Rey. Dia pasti udah nunggu gue.” Ujarku memotong kalimat Ana dengan terisak.

“Oke oke gue gak akan perotes lagi! Yaudah sekarang kita ke toilet aja, terus cuci deh muka lo yang udah kayak cucian itu. Hehe peace sob” Ana nyengir.

*****

“Gimana Na? Masih keliatan bengkak gak?” tanyaku setelah keluar dari toilet.

“Yaaaah, lebih baik lah daripada yang tadi.” jawab Ana sambil tersenyum setelah meneliti keadaan mataku. Aku membalas senyum Ana yang tulus.

*****

Ana mengantarku sampai ke parkiran karena permintaanku. Dan ternyata benar Rey sudah menungguku. Dia melambai ke arahku. Dan aku membalasnya. Sejak kelas 8 Rey selalu menjemputku jika waktu sekolah berakhir. Salah satu alasannya karena dia bahagia mendapat hadiah MoGe alias motor gede yang sangat ia idam-idamkan sejak ia melihat gambar motor di majalah kakaknya. Alasan yang lain karena dia menyuruhku mengirit uang jajan, dan karena rumah kami hanya berbeda dua blok. Rumahku di blok D dan rumah Rey di blok F.

Setelah sampai di parkiran Ana melambai sambil tersenyum kepadaku dan Rey. Aku dan Rey balas melambai dan tersenyum padanya. Entah mengapa Ana mengacungkan jempolnya padaku. Karena tak mengerti aku hanya membalas dengan senyuman.

Siang ini sikap Rey tidak seperti biasanya. Dia tidak marah saat aku terlambat menemuinya. Biasanya dia akan mengoceh selama setengah jam sebelum menyalakan mesin motornya karena aku terlambat 10 menit menemuinya. Tapi hari ini. Aku terlambat setengah jam. Dia hanya memberikan senyum manisnya dan mengatakan “Naik yuuuk!”. Aneh pikirku.

*****

Aku terkejut saat Rey tiba-tiba menghentikan motornya.

“Loh, kenapa berhenti? Rumah gue kan masih jauh.” tanyaku tak mengerti.

“Abisnya elo dari tadi diem aja Lun. Lo kenapa sih? Harusnya lo bilang makasih dong sama gue. Gue kan gak marahin lo gara-gara lo telat setengah jam, nungguin lo kayak nunggu ayam bertelor tauu!” ujar Rey dengan tampang jahil.

“Iya iyaa maaf. Makasiiiiiiiih Rey yang cakep, pinter, baik hati, rajin menabung, dan tidak somboong” ucapku berlebihan sambil tersenyum.

“Oke oke!! Besok jangan telat lagi yaaa adeeek!!” begitulah panggilan sayang Rey kepadaku. Padahal umur kami hanya beda dua bulan. “Duduk di sana yuuk sambil makan siomay, laper nih gue. Sekalian ada yang mau gue ceritain.” Pasti tentang cewek barunya, pikirku.

*****

Saking lapernya aku dan Rey makan dua piring siomay. Ternyata banyak pikiran dan stress bisa membuat orang kekurangan persediaan makanan di dalam tubuh.

“Rey…” panggilku.

“Ya?” jawabnya sambil melahap siomay terakhirnya.

“Tadi lo bilang mau cerita. Cerita apa?” walaupun akan sakit mendengarnya, aku tetap ingin tahu.

“Oh itu. Aduh gue jadi malu, dek.” jawabnya malu-malu.

“Sama adek sendiri aja malu, gimana sama pacar!”

“Eh si adek udah tau kalo kakaknya yang ganteng ini udah punya pacar?” ucap Rey masih tersipu malu. Astaga!! Kata-kata Rey terdengar begitu menyakitkan di telingaku.

“Ah engga. Tadi cuma ngasal aja kok” ujarku pura-pura tidak tahu.

“Yeee kirain tau!! Iya dek, jadi kakakmu ini udah laku. Udah ada yang mau. Hehehehe”

“Ooh..” aku speechless.

“Kok cuma oh? Ga mau tau namanya nih?” canda Rey.

“Heeem… Siapa cewek yang udah bikin kakakku tersayang ini jatuh cinta?” tanyaku akhirnya.

“Namanya Rara, dek. Dia ketua OSIS di sekolah gue. Baik. Berkerudung. Cantik. Pinter. Perfect deeh. Satu lagi, dia sekelas sama gue. Duduknya persis di seberang gue. Hehehehe…” Rey tersenyum.

“Penasaran. Ada fotonya?” tanyaku.

“Ada ada, nih….” Rey mengulurkan handphonenya kepadaku.

“Iya cantik. Kapan-kapan kenalin yaaah?” pintaku. “By the way, berapa lama lo pedekate-nya sama rara?” lanjutku.

“Gak lama. Cuma sebulan.” Rey nyengir.

Congratulation yaa Rey, elo hebat!” Aku tak tahu harus berkata apa lagi.

“Makasiiih sayaaang.”

Rasanya ingin mendengar panggilan sayang itu sebagai kekasih, bukan sebagai adikmu Rey, batinku.

“Ngomong-ngomong kenapa mata lo dek? Lo abis nangis?” Astaga! Ternyata Rey memperhatikanku.

“Ah gak apa-apa kok. Kayanya tadi kelilipan deh” jawabku gugup sambil mengucek-ucek mataku. “Udah sore nih, pulang yuuuk! Gue banyak tugas.” lanjutku sambil merarik lengan kanan Rey.

*****

Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur, lalu menutup mataku dengan perlahan, dan sambil berpikir tentang hal yang ku alami saat makan siomay tadi.

Namanya Rara, dek. Dia ketua OSIS di sekolah gue. Baik. Berkerudung. Cantik. Pinter. Perfect deeh. Satu lagi, dia sekelas sama gue. Duduknya persis di seberang gue.” Semua kata-kata Rey tentang Rara bercampur di pikiranku. Begitu sempurnakah Rara? Sampai-sampai Rey sangat menyukainya dan tak pernah melihat aku? Aku hanyalah adiknya. Untuk selamanya hanya adiknya. Kata-kata itu tak akan pernah berubah untuk selamanya, dan aku menyadarinya.

*****

“Pagiii Lunaaaa sayaaang!!! Ayo banguun!! Walaupun ini hari minggu jangan tidur terus kayak kebo. Bangun bangun!!” suara yang sangat ku kenal. Suara itu milik Rey.

“Aaaah siapa siiih pagi-pagi gini udah teriak-teriak di kamar gue? Gak tau apa hari ini hari minggu? Hari di mana semua orang bisa memanjakan dirinya sepuas-puasnya. Do you know abou it, Reynaldi Pratamaaaaa????” sahutku gak mau kalah.

“Yes..yes.. I know. Yaudah kalo gak mau bangun. Padahal gue punya bubur lezat looooh, buatan mama pula. Heeeeeem, enaaaaaaakk bangeeeet!!”

Dari baunya, aku sudah tau kalau Rey membawa makanan lezat. Pada saat itu juga aku membuka mataku dan mengambil mangkuk yang ada di tangan Rey.

“It’s very delicious! Thank you Tante Sofi” ucapku sambil menelan sesendok bubur.

“Jadi makasihnya cuma buat Tante Sofi?” Tanya Rey dengan nada mengejek.

“Oke, makasiiiih abaaaaang! Hahahaha”

“Hah? Abang? Abang becak?” tanya Rey bingung.

“Ahahahahaha, bukaaan. Abang tukang bubur maksudnya!” ucapku sambil menjulurkan lidah. Sementara Rey hanya bisa manggut-manggut melihat tingkahku.

“Rey…” panggilku memecahkan kesunyian.

“Ya? Jangan bilang kalo buburnya kurang?!” candanya sambil duduk disampingku.

“Engga kok.”

“Trus kenapa?” ia menatapku. Tatapan yang membuat jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.

“Lo akan tetep jadi kakak gue kan?” tanyaku.

“Yaaa..iyaalaaaah.. kenapa?”

“Kakak yang selalu jagain adiknya?”

“Iyaa”

“Kakak yang selalu diemin adiknya kalo lagi nangis?”

“Iya”

“Kakak yang selalu bantuin adiknya kalo lagi kesusahan?”

“Iya”

“Kakak yang selalu jadiin adiknya nomer satu dari apapun?”

“Iyaaa”

“Walaupun punya pacar yang di cinta banget..nget..nget?”

“Iyaaaaa, adek baweeeel !!” kali ini Rey menjawab sambil mengacak-acak rambutku yang memang sudah sangat berantakan.

Ku letakkan mangkuk yang ada di tanganku. Dan tubuhku menghambur dalam pelukan Rey. Rey yang bingung tetap membalas pelukanku. Sekarang aku mengerti artinya seorang kakak. Aku sudah memikirkanya semalam. Aku tak ingin jauh dari Rey. Satu-satunya cara adalah tetap menjadi adiknya.

“Okee makasih ya abaaaang sayaaang. Gue sayang banget sama elo bang.” ucapku sambil melepaskan pelukan Rey.

“Abang bubur?”

“Abang Reynaldi Pratama!” ujarku sambil tertawa. Rey ikut tertawa. Pagi ini aku benar-benar bahagia. Ini adalah hal yang terindah, memiliki seorang kakak sepertinya.

Mulai hari ini aku akan selalu menganggap Reynaldi Pratama sebagai seorang kakak. Kakak yang selalu ada untukku.

*****

arlina nurul ikhsani
Dreams do come true, but only when
They make it through despair,
Limping into everyday
Transformed beyond repair.

No dream would be a dream if it
Could pass for something real,
Nor would we sail for paradise
Would it its shoals conceal.

And we must love love as it is
That dreams might still come true
Mangled into miracles
To make our lives anew.
arlina nurul ikhsani

May our friendship last forever;
May I sail upon your sea.
May we go through life together;
May there always be a “we”

May I be your endless sky;
May you breathe my gentle air.
May you never wonder why
Each time you look for me, I’m there

May we share our special days,
The happiness of one for two;
And if we must go separate ways,
Let my love remain with you.
arlina nurul ikhsani

Ujian bisa jadi momok yang nakutin tapi bisa jadi temen yang ngenakin. Asal tau triknya, kamu nggak harus panik menghadapi ujian, sebaliknya malah pengen ujian lagi, buat bukti kalo kamu emang bisa beneran!

Ujian akhir atau ujian semesteran udah jadi kegiatan rutin buat siswa juga buat sekolahnya. Makanya, harusnya ujian bukan menjadi momok seperti pocong dan sejenisnya. Kegiatan ujian justru menjadi momen penting di mana siswa menunjukkan kemampuannya memahami pelajaran yang udah diberikan oleh guru di sekolah, pelajaran yang udah diterima dan dipelajari selama 6 bulan.

Tapi seperti jamaknya ujian, ada aja pressure-nya yang dirasain oleh tiap siswa. Mereka nggak bisa ngebayangin kalo nilai ujiannya sampe jeblok. Saking stresnya, bukan nggak mungkin persiapan ujian yang udah setengah mateng itu malah kaco. Konsentrasi belajar susah. Apalagi kalo faktor-faktor yang lainnya ikut-ikutan juga. Misalnya ortu yang kelewat sibuk, sampe kebutuhan perlengkapan ujian, kayak pensil, penggaris, pulpen, tip-ek, dan penghapus menjelang hari H blom komplit sama sekali.



Makin Siap Makin Baik

Selain persiapan fisik, seperti alat-alat tulis yang dibutuhkan saat ujian, kamu juga harus menjaga kondisi tubuh, supaya kamu tetep sehat pada saat ujian. Kondisi tubuh yang sehat juga harus disiapkan dari jauh-jauh hari. Belajar “wayangan” semalaman suntuk menjelang ujian nggak cuma mempertaruhkan kesehatan kamu tapi juga nggak akan ada hasilnya. Otak kamu nggak akan sanggup menyerap pelajaran 6 bulan dalam waktu semalam, apalagi dengan kondisi kesehatan yang nggak prima.
Mumpung belum terlambat, ujian semesteran, trus disambung ujian nasional, mendingan bikin persiapan yang matang. Banyak sih yang bisa diusahain supaya hasil ujian bisa lebih baik. Tapi paling nggak, dengan prepare beberapa hal, kamu lebih siap ujian dan hasilnya bisa lebih bagus dari pada nggak siap sama sekali. Dari banyak hal yang harus disiapin, di bawah ini ada kumpulan beberapa dulu yang bisa kamu ikutin.

1. Jangan Telat dan Bawa Peralatan Komplit!

Selain siap menjawab soal-soal ujian, jangan lupa bawa alat-alat tulis yang dibutuhkan. Membawa semua peralatan yang dibutuhkan, membuat kamu bisa konsentrasi penuh ke materi ujian tanpa diganggu oleh pernak-pernik sepele, tentang alat tulis dan satu lagi, jangan dateng telat!

2. Tenang dan Yakin
Gimanapun kondisinya, yakin kan diri kamu kalo kamu udah siap menghadapi ujian. Jangan berpikir lainnya, yang justru akan mengganggu konsentrasi kamu. Yakin bahwa kamu udah belajar maksimal dan sekarang udah siap banget ngikutin ujian.

3. Baca Semuanya
Hitung jumlah semua soalnya, dan sesuaikan dengan waktu yang disediakan. Maksudnya supaya kamu nggak salah berapa banyak soal-soal ujiannya. Jangan ampe salah hitung aja, soal 100 kamu pikir Cuma 50.

4. Jawab Secara Strategis

Jawab duluan soal yang mudah buat kamu. Trus yang lebih susah sampe yang susah banget. Pilih prioritas menjawab soal yang nilainya tinggi. Soal yang perlu waktu banyak buat ngejawabnya, atau yang nilainya kecil banget, mendingan dijawab belakangan.

5. Berpikir Taktis

Menjawab soal pilihan berganda, selain berusaha menjawab dengan tepat, bisa juga didekati secara taktis. Caranya, tinggalin jawaban yang kamu tau, jelas-jelas salah. Jangan menjawab lebih dari satu pilihan, kemungkinan salahnya malah akan lebih besar. Biasanya pilihan pertama banyak benernya, kecuali kamu yakin banget, boleh dikoreksi.

6. Jangan Buru-Buru Menjawab

Khusus soal ujian yang bentuknya esai, jangan terburu-buru menulis jawaban. Buat dulu kerangka singkat jawaban dengan mencatat ide-idenya. Nomori ide-ide tersebut buat diurutin mana yang harus duluan dan mana yang berikutnya.

7. Langsung ke Poinnya

Buat jawaban esai, alinea pertama isinya jawaban utama, baru dilanjut ke alinea seterusnya, buat menjabarkan poin-poin utama secara detail. Jangan seperti sedang mengarang ya! Cukup ditulis singkat, padat tapi jelas.

8. Dikoreksi Lagi

Periksa lagi jawaban ujian kamu sebelum meninggalkan ruangan. Coba baca sekali lagi dengan teliti. Nggak usah pengen cepet-cepet kabur dari kelas deh. Mendingan sempetin waktu buat koreksi ulang jawaban kamu. Periksa lagi, siapa tau ada ejaan atau struktur bahasa yang kurang pas. Buat urusan hitung-hitungan, lebih-lebih lagi harus ekstra teliti. Jangan males ngecek dan ricek.

9. Analisa Hasil

Satu poin lagi yang juga penting, yaitu menganalisa hasil ujian. Langkah ini bisa ngebantu kamu di ujian berikutnya. Paling nggak kamu jadi tau jawaban yang salah, biar ujian berikutnya bisa lebih baik lagi.

Oke friends, GOOD LUCK for your test !!!
arlina nurul ikhsani

Betapa sederhananya jika sekolah hanyalah tempat menuntut ilmu. Kamu hanya perlu datang, belajar di kelas, lalu pulang dan kembali keesokan harinya dengan membawa buku PR. Sayangnya, kenyataannya tidak seperti itu. Suka atau tidak, bagi remaja sekolah adalah segala-galanya. Di sekolah kamu juga berteman, berpacaran, dan berkreasi. Sekolah adalah tempat kamu menemukan identitas. Sekolah adalah rumah kedua kamu. Sekolah adalah dunia kamu, semesta kamu. Segala-galanya.

Bayangkanlah jika sekolah yang merupakan pusat kehidupan itu malah menjadi neraka bagi kamu. Mungkin karena kamu digencet oleh seseorang atau sejumlah teman. Atau gara-gara kamu merasa tak sanggup mengikuti kurikulum sekolah yang terlalu berat bagi kapasitas otak kamu. Barangkali lantaran kamu menjadi bulan-bulanan kakak kelas. Siapa tahu akibat kamu sengsara karena cinta kamu pada teman sekelas bertepuk sebelah tangan. Apapun juga penyebabnya, pastilah kamu jadi malas berangkat sekolah, sering bolos, tidak berprestasi, dan stres.

Dalam kondisi tak menguntungkan seperti itu wajar kalau kamu berpikir untuk pindah sekolah. Tentu saja realisasinya tak semudah yang kamu bayangkan. Orangtua sukar mengabulkannya, kecuali kamu memberikan alasan logis yang bisa mereka terima. Tapi biasanya remaja tak bisa mengutarakan problem yang dihadapinya di sekolah dengan sekolah. Rasa malu, bingung, dan takut membuat alasan yang disampaikan pada orangtua terkesan emosional dan ditolak mentah-mentah.

Sebenarnya pindah sekolah bukanlah solusi yang tepat. Seberat apapun masalahnya, kamu tidak akan terbebas dari masalah itu dengan pergi begitu saja. Masalah harus dihadapi, bukan diingkari. Di sekolah baru pun kamu akan tersandung masalah. Malah mungkin di sana kamu akan terlilit masalah yang lebih rumit. Jadi, jelaslah bahwa pindah sekolah bukanlah jalan keluar yang baik, melainkan sekedar jalan pintas yang tidak mendidik.

Bagi banyak siswa, problem terberat di sekolah bukanlah menyangkut pelajaran. Problem pelajaran sedikit banyak bisa diatasi jika siswa lebih tekun menyimak pelajaran, mengerjakan semua tugas, belajar dengan teman, serta ikut pelajaran tambahan. Justru masalah pergaulanlah yang lebih membingungkan. Mencari teman yang cocok tidak mudah karena ada masalah perbedaan latar belakang minat, kecerdasaan, serta status sosial keluarga. Anak yang kaya biasanya bergaul dengan anak orang kaya juga; yang cakep hanya mau segang dengan yang sama cakepnya; dan seterusnya. Perebutan teman sering terjadi. Siswa yang paling populer kadang tidak segan menggencet siswa yang tidak beruntung.

Jika kamu menghadapi satu atau lebih maslah di atas, sadarilah bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang punya masalah seperti itu. Jangan menanggung masalah kamu seorang diri. Kamu bisa mendiskusikannya dengan wali kelas atau guru BP serta orangtua kamu. Jika bicara dengan orangtua terasa mengerikan, tak ada salahnya kamu ajak bicara dulu kakak kamu dan dialah yang akan mengajak bicara mama dan papa. Yang penting jangan berbohong. Kalau kamu berbohong, orangtua bisa salah paham dan problem kamu malah akan semakin rumit.

Tentu saja tidak setiap orangtua peka terhadap masalah yang dihadapi anaknya di sekolah. Seandainya mama dan papa tidak memberikan solusi yang bijaksana, kamu tidak perlu putus asa. Setiap masalah pasti ada solusinya kok. Kamu kan bisa mencari bantuan ke guru ngaji, misalnya. Percayalah kelak ketika kamu dewasa kamu akan mengenang kesusahan kamu di sekolah dengan tersenyum. Problem-problem itulah yang menempa kamu menjadi dewasa.



Berikut ini adalah tip dari Nancy Fisk Maletz, psikoterapi dari Amerika, untuk kamu yang punya masalah dengan pergaulan di sekolah :

1. Jangan membicarakan kejelekan atau kesalahan orang lain. Semua teman di sekolah itu pada dasarnya baik-baik saja. Bahkan jika kamu tidak suka pada orang tertentu, perlakukan orang tersebut bukan sebagai musuh, melainkan sebagai kenalan biasa.

2. Percayakan rahasia kamu hanya pada orangtua, bukan pada teman, terlebih orang asing yang hanya berkomunikasi dengan kamu di internet atau telefon. Tidak peduli betapa baiknya seorang teman kepada kamu saat ini, dia bisa berbalik arah menjadi musuh suatu ketika dan membocorkan rahasia kamu.

3. Bertemanlah dengan banyak orang dari berbagai kelompok yang berbeda. Lebih baik menjadi bagian dari 4 kelompok ketimbang menjadi pucuk pimpinan dalam 1 kelompok saja.
arlina nurul ikhsani
my new blog..

postingan gue yang pertama nih. gatau mau posting apa huehehe :D
follow yaaaa..

thanks to haniyyah cantik yg udah mau bantuin wuakakak ;))

segitu aja dulu, bye :)